WASPADA! Anak-anak Bisa Terpapar Radikalisme

ALARM! Anak-anak dapat terpapar radikalisme dan kekerasan seksual di Internet dan berisiko stres dan bahkan bunuh diri

waspada-radikalisme

Orang tua yang tidak diperhatikan! Anak-anak berisiko terpapar radikalisme dan kekerasan seksual di dunia maya, dan berisiko stres bahkan bunuh diri.

Di masa pandemi ini, kehadiran internet membawa banyak keuntungan, terutama untuk menjaga proses belajar tetap berjalan meski dari jarak jauh.

Sisi negatifnya, internet juga berpotensi menampilkan kekerasan non fisik yang dapat dikonsumsi oleh anak-anak.

Ciput Eka Purwianti, Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan Pornografi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA RI) memaparkan tiga potensi anak mengalami kekerasan saat menggunakan internet.

“Pertama, mereka rentan terhadap kekerasan dunia maya, yang dapat mencakup eksploitasi seksual di Internet,” kata Ciput dalam pertemuan virtual.

“Jika terkena self-harm dan bunuh diri, mereka juga bisa terkontaminasi dengan konten radikalisme dan bentuk eksploitasi lain yang kita alami dalam banyak kasus,” katanya.

Kecanduan dunia maya adalah potensi lain. Kasus bahkan telah dilaporkan tentang anak-anak di bawah usia 10 tahun yang kecanduan perangkat, termasuk game online dan pornografi.

Dikutip IndoTrends.id dari MindRakyat-Tasikmalaya.com yang dilansir ANTARA, potensi lain dengan banyak kejadian dan tanpa disadari adalah cyber bullying.

Mayoritas anak-anak mengalami cyberbullying di dunia maya oleh teman sebayanya, namun beberapa di antaranya juga oleh orang dewasa.

Catatan kekerasan terhadap anak secara online, menurut Plan International Indonesia Foundation pada tahun 2020, menunjukkan bahwa kekerasan seksual merupakan ancaman terbesar.

“96 persen dari mereka yang disurvei mengatakan pernah mengalami ancaman kekerasan seksual,” katanya.

“Hal terbesar berikutnya adalah pelecehan seksual atau pelecehan lainnya dari komentar atau pesan yang diterima dari anak-anak,” kata Ciput.

Kekerasan lain di Internet adalah pengawasan oleh orang asing atau orang dewasa, yang biasanya predator.

Selanjutnya adalah hinaan fisik, ucapan rasis, pelecehan seksual, ancaman kekerasan fisik dan penghinaan.

Menurut penelusuran pada April 2020, sekitar 30 persen, atau 112 anak, mengaku menerima pesan teks tidak senonoh.

Ilustrasi anak menggunakan internet.
Ilustrasi anak menggunakan internet. / Pixabay / Nadine Doerle

“Jadi pornografi tidak hanya berupa video atau gambar, tapi juga teks,” tambahnya.

Selain itu, penyampaian gambar atau video yang mengandung unsur pornografi.

“Ini menjadi alarm, pengingat bagi kita semua, terutama orang tua. Tentunya untuk meningkatkan kedekatan dengan anak yang lebih besar, tantangannya akan berbeda,” kata Ciput.

Sumber :